Selasa, Mei 05, 2009

Alas Purwo, Tak Cuma Berselancar

Alas Purwo di ujung Tenggara Pulau Jawa, bukan cuma tersohor sebagai salah satu lokasi surfing terbaik di dunia. Tapi juga menyimpan beragam pesona lain. Daya tarik alam dan penghuninya tidak kalah dibandingkan dengan Taman Nasional Ujungkulon yang berada di ujung paling barat Jawa. Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), khususnya Pantai Plengkung sudah lama menjadi surga bagi peselancar mancanegara, karena ombaknya sangat besar. Banyak sudah julukan fantastis yang diberikan oleh para peselancar dunia terhadap tempat ini. Para penggila gulungan ombak asal Jepang, misalnya menjuluki pantai ini The Seven Giant Wave Wonder, karena kerap ditemui ombak raksasa datang susul menyusul sebanyak tujuh lapis.

Julukan itu tak berlebihan, sebab panjang gelombang di pantai ini mencapai dua km dengan tinggi empat sampai enam meter dalam interval lima menit. Oleh karena itu kerap digunakan sebagai lokasi kompetisi surving tingkat internasional, antara lain pada tahun 1996, 1997, dan 2001. Menurut beberapa peselancar, selain di Plengkung, cuma Hawaii, Australia, dan Afrika Selatan saja yang memiliki ombak dasyat seperti itu Sedangkan ombak laut di Kepulauan Fiji dan Peru masih dibawah empat tempat tersebut.

Dengan tujuh lapis ombak besar itu, Plengkung memang bukan lokasi yang tepat bagi para peselancar pemula. Tapi tak perlu cemas, pemandangan alam Plengkung sangat menawan lengkap dengan hamparan pasir putih, menjadikannya juga ideal untuk rekreasi pantai. Kita yang bukan peselancar andal atau sekadar pelancong, bisa berjemur sepuasnya.

Menjelang sore hari, di saat air laut pasang-surut, kita dapat menyaksikan karang-karang yang membentuk kolam-kolam berisi berbagai mahluk hidup laut di salah satu bagian pantainya. Seketika itu pula kita dapat melihat aksi sekelompok burung laut yang merubungi kolam-kolam karang itu untuk menyantap isinya. Tak lama kemudian, kita dapat menikmati suguhan pemandangan eksotik berupa matahari tenggelam ke peraduan, jatuh dalam pelukan teluk. Tapi kalau memang penasaran ingin mencoba berselancar, ayunkan kaki ke Pantai Parang Ireng hingga Batu Lawang karena karakterstik gelombang perairannya tidak seganas Plengkung.

Lain halnya dengan peselancar Australia dan Amerika Serikat, mereka menyebut Plengkung, G-Land yang merupakan singkatan dari pelabuhan Grajagan, yakni tempat berlabuhnya kapal-kapal yang dipakai para turis mancanegara untuk mencapai Plengkung. Sebutan G-land juga berarti karena Plengkung yang berada di Teluk Grajagan menyerupai huruf G. Atau bisa juga diartikan karena letak Plengkung berada tidak jauh dari hamparan hutan hujan tropis yang terlihat selalu hijau atau Green Land.

Umumnya para peselancar mancanegara ke Plengkung memilih lewat laut dengan menyewa perahu motor nelayan di Grajagan. Meskipun perahu motor harus berjuang melewati celah yang dinamai Pintu Air yang berbahaya dan telah mengkandaskan beberapa perahu hingga menelan korban, namun waktu tempuhnya lebih singkat daripada lewat darat yang jaraknya 24 km dari pintu masuk Pasaranyar.

Biasanya para turis berdatangan saat musim surfing, yakni Juli, Agustus, dan September untuk menjajal kedasyatan tujuh gelombang berlapis. Selepas Oktober, nelayan pun tidak ada yang berani melewati celah Pintu Air karena terlalu berisiko. Peselancar yang datang ke Plengkung, kebanyakan pria dari Australia, Amerika Serikat, Brasil, dan Jepang.

Masih belum puas bermain-main dengan laut dan pantai, coba saja bersnorkling dan diving di sekitar pantai Perpat, Slengrong, dan Tanjung Pasir. Di sana pantainya agak landai, lengkap dengan aneka terumbu karang dan beragam ikan hias. Atau ke Danau Segoro Anak yang tenang lengkap dengan hutan bakaunya untuk memancing ikan, berlayar, bersampan, berenang, ski air, dan mengamati tingkah laku aneka burung migran yang datang dari Australia sekitar bulan Oktober-Desember. Ada sekitar 16 jenis burung yang transit di sekitar danau ini, antara lain cekakak suci (Halcyon chloris/Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (Merops philippinus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola).

Kalau fisik masih kuat, coba saja junggle track atau menelusuri setapak di hutan mulai dari Rowo Bendo, Ngagelan, Segoro Anak hingga Cungur. Atau rute lainnya dari Trianggulasi, Pancur sampai ke Plengkung. Wisata jalan kaki ini melewati hutan yang masih asri dan kerap dilalui aneka satwa seolah kita berada di alam liar.

Mau yang lebih santai? datang saja ke Sadengan, 7 km atau sekitar 15 menit dari Trianggulasi. Tempat ini merupakan padang pengembalaan satwa liar seperti banteng, kijang, rusa, kancil, dan babi hutan bahkan sesekali terlihat merak. Di tepian savana ini ada watching tower atau menara pengintai yang terbuat dari kayu untuk mempermudah wisatawan menikmati atraksi beragam hewan asyik merumput.

Trianggulasi-Sadengan merupakan jalur trail wisata. Pada pagi hari, di sepanjang jalan ini kita bisa melakukan bird watching atau pengamatan burung karena kawasannya banyak dijumpai pepohonan besar yang kerap disinggahi aneka burung, antara lain beo dan cucak hijau.

Kegiatan lain yang tak kalah menarik, mengabadikan pemandangan lewat bidikan kamera. Di TNAP ini begitu banyak panorama alam indah, unik, dan asri berupa pantai, hutan tropis dataran rendah, bukit ijo royo-royo, yang sayang kalau tidak dipotret. Misalnya, di Pantai Trianggulasi, 13 Km dari pintu masuk Pasaranyar terdapat pantai pasir putih dengan formasi hutan pantai untuk kegiatan wisata bahari, berkemah. Di tempat ini kita bisa menjepret pesona sunset yang menawan.

Di kawasan Pancur - Parang Ireng - Plengkung kita bisa mengabadikan beragam lukisan alam menarik antara lain sumber air Pancur, formasi karang hitam, dan hamparan pasir gotri sepanjang delapan km. Pasir tersebut berwarna kuning, berbentuk bulat dan berdiameter sekitar 2,5 mm. Sedangkan di Sunglon Omblo, kita bisa mengabadikan pesona sirkulasi pasang surut air laut dan tumbuhan khas payaunya.

Ingin memotret penyu, lanjutkan perjalanan ke Pantai Ngagelan yang terletak 6 Km atau sekitar 25 menit ke arah barat dari Trianggulasi. Di sana terdapat tempat penetasan telur penyu atau breeding turtle dan pemeliharaan anak penyu atau tukik sekaligus tempat pusat penelitian yang sering dimanfaatkan oleh mahasiswa. Ada sedikitnya tiga jenis penyu yang langka dan dilindungi seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas). Biasanya mereka mendarat, bertelur, dan menetas di pantai selatan taman nasional ini pads bulan April sampai Oktober.

Selain itu kita bisa memotret tumbuhan khas dan endemik kawasan ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki) dan bambu manggong (Gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya ketapang (Terminalia cattapa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia foetida), dan 13 jenis bambu. Tak ketinggalan beberapa satwa liarnya seperti lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus), banteng (Bos javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan (callus gallus), rusa (Cervus timorensis russa), atau kalau beruntung bisa memotret macan tutul (Panthera pardus melas), dan kucing bakau (Prionailurus bengalensis javanensis).

Masyarakat yang tinggal di sekitar TNAP hingga kini masih menjalani adat-istiadat khas "Blambangan". Mereka percaya kalau Hutan Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram, dan meyakini bahwa di hutannya masih tersimpan Keris Pusaka Sumelang Gandring. Oleh karenanya, pada saat-saat tertentu seperti 1 Syuro, bulan purnama, dan bulan mati, banyak dijumpai para penikmat olah kebathinan yang melakukan meditasi atau melaksanakan upacara religius.

Salah satu lokasi semedhi yang paling terkenal di TNAP adalah Goa Istana yang terletak arah timur dari Pantai Pancur sejauh dua km. Konon Bung Karno dipercaya pernah bertapa di goa yang dihuni kelelawar itu. Goa Padepokan, Putri, dan Basori juga kerap didatangi peziarah. Di dalamnya terdapat bangunan menyerupai makam.

Selain beberapa gua yang dianggap keramat oleh penduduk setempat, masih ada puluhan gua besar dan kecil lain di TNAP, seperti Gua Jepang di Tanjung Sembulungan yang terjal dan berhutan lebat. Konon di dalam gua buatan bernilai sejarah ini terdapat peralatan perang, berupa dua buah meriam sepanjang 6 meter. Yang agak menyeramkan Gua Macan di Tanjung Bringinan. Bentuk gua alami ini menyerupai tengkorak raksasa yang sedang menatap lautan, letaknya di tebing karang terjal. Untuk menikmati gua, khususnya yang alami dan belum atau jarang dijamah orang, tentu kita harus menyiapkan peralatan caving memadai dan tetap waspada, mengingat gua tersebut kerap menjadi sarang kelompok hewan ajag Jawa, predator yang diduga suka menyantap banteng betina.

Di TNAP, kita juga bisa menyaksikan sekaligus memotret jalannya upacara umat Hindu yaitu Pagerwesi. Upacara yang diadakan setiap jangka waktu 210 hari ini terdiri dari tiga prosesi yakni Palemahan, Pawongan, dan Kayangan. Dalam acara tersebut, air yang digunakan diambil dari tiga sumber air dari Kucur, Pancur, dan Air Laut yang merupakan pertemuan air suci dari gunung dan laut. Kemudian air tersebut diarak dengan diiringi alunan gamelan khas Hindu ke Pura Luhur Giri Salaka yang berada di Rowobendo, 10 Km dari pintu masuk Pasaranyar.

Sekarang sudah tahu bukan, kalau di TNAP kita bukan cuma bisa surving di Plengkung dengan tujuh lapis ombak besarnya. Tapi juga bisa melakukan beragam kegiatan menarik dan menantang lainnya, baik yang bernuansa alam, petualangan, penelitian maupun budaya. Jadi, rasanya pantas kalau kawasan konservasi ini dijadikan objek kunjungan ekowisata Anda berikutnya.

Sumber: Majalah Travel Club

1 komentar:

  1. mantaf,

    dilihat dari g-earth apik lho...
    ono poto2ne juga

    BalasHapus

Trimakasih sudah mau Komentar