Senin, Mei 25, 2009

aku menangis 6 kali bersama adikku

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan diriku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.

Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya merengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..."

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.

"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:

"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?

Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"

Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya.

"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."

Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Berkali-kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan menjadi buah bibir orang?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?"

Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih kepadanya adalah adikku."

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times"
oleh: DHB Wicaksono

Sabtu, Mei 23, 2009

PROUDLY PRESENT
the family palafne ugm .....

backup

Aku mengenal dikau
Tak cukup lama…separuh usia ku
Namun begitu banyak..pelajaran
Yang aku terima

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Kan terwujud Harmony…

Segala kebaikan..
Takkan terhapus oleh kepahitan
Kulapangkan resah jiwa..
Karna kupercaya..
Kan berujung indah

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Kan terwujud Harmony…

Jumat, Mei 22, 2009

rangkaian kata tentang kehidupan...

arti kehidupan

suatu hari..pernah kurenungi…
adakah seorang insan yang mengerti..
apakah arti kehidupan ini…

pernah kucari arti cinta sejati
namun yang kutemui hanyalah mimpi..
suatu mimpi kosong yang tak bertepi
apakah salah hati ini
ingin memiliki sebuah cinta sejati..

apakah arti sebuah persahabatan sejati
apakah itu juga sebuah mimpi..?
jika benar, apalah arti semua ini..
sudah banyak hari kujalani
tanpa suatu tujuan yang pasti…

semua seakan hanyalah ilusi..
ilusi yang tiada memiliki arti

namun akhirnya satu hal kusadari
hanya Tuhan yang sungguh mengerti,
tentang semua arti kehidupan ini..
kekosongan hati ini
tidak lagi diisi dengan benci..
tak ada yang lebih murni
dari kesucian cinta Ilahi

Selasa, Mei 05, 2009

Alas Purwo, Tak Cuma Berselancar

Alas Purwo di ujung Tenggara Pulau Jawa, bukan cuma tersohor sebagai salah satu lokasi surfing terbaik di dunia. Tapi juga menyimpan beragam pesona lain. Daya tarik alam dan penghuninya tidak kalah dibandingkan dengan Taman Nasional Ujungkulon yang berada di ujung paling barat Jawa. Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), khususnya Pantai Plengkung sudah lama menjadi surga bagi peselancar mancanegara, karena ombaknya sangat besar. Banyak sudah julukan fantastis yang diberikan oleh para peselancar dunia terhadap tempat ini. Para penggila gulungan ombak asal Jepang, misalnya menjuluki pantai ini The Seven Giant Wave Wonder, karena kerap ditemui ombak raksasa datang susul menyusul sebanyak tujuh lapis.

Julukan itu tak berlebihan, sebab panjang gelombang di pantai ini mencapai dua km dengan tinggi empat sampai enam meter dalam interval lima menit. Oleh karena itu kerap digunakan sebagai lokasi kompetisi surving tingkat internasional, antara lain pada tahun 1996, 1997, dan 2001. Menurut beberapa peselancar, selain di Plengkung, cuma Hawaii, Australia, dan Afrika Selatan saja yang memiliki ombak dasyat seperti itu Sedangkan ombak laut di Kepulauan Fiji dan Peru masih dibawah empat tempat tersebut.

Dengan tujuh lapis ombak besar itu, Plengkung memang bukan lokasi yang tepat bagi para peselancar pemula. Tapi tak perlu cemas, pemandangan alam Plengkung sangat menawan lengkap dengan hamparan pasir putih, menjadikannya juga ideal untuk rekreasi pantai. Kita yang bukan peselancar andal atau sekadar pelancong, bisa berjemur sepuasnya.

Menjelang sore hari, di saat air laut pasang-surut, kita dapat menyaksikan karang-karang yang membentuk kolam-kolam berisi berbagai mahluk hidup laut di salah satu bagian pantainya. Seketika itu pula kita dapat melihat aksi sekelompok burung laut yang merubungi kolam-kolam karang itu untuk menyantap isinya. Tak lama kemudian, kita dapat menikmati suguhan pemandangan eksotik berupa matahari tenggelam ke peraduan, jatuh dalam pelukan teluk. Tapi kalau memang penasaran ingin mencoba berselancar, ayunkan kaki ke Pantai Parang Ireng hingga Batu Lawang karena karakterstik gelombang perairannya tidak seganas Plengkung.

Lain halnya dengan peselancar Australia dan Amerika Serikat, mereka menyebut Plengkung, G-Land yang merupakan singkatan dari pelabuhan Grajagan, yakni tempat berlabuhnya kapal-kapal yang dipakai para turis mancanegara untuk mencapai Plengkung. Sebutan G-land juga berarti karena Plengkung yang berada di Teluk Grajagan menyerupai huruf G. Atau bisa juga diartikan karena letak Plengkung berada tidak jauh dari hamparan hutan hujan tropis yang terlihat selalu hijau atau Green Land.

Umumnya para peselancar mancanegara ke Plengkung memilih lewat laut dengan menyewa perahu motor nelayan di Grajagan. Meskipun perahu motor harus berjuang melewati celah yang dinamai Pintu Air yang berbahaya dan telah mengkandaskan beberapa perahu hingga menelan korban, namun waktu tempuhnya lebih singkat daripada lewat darat yang jaraknya 24 km dari pintu masuk Pasaranyar.

Biasanya para turis berdatangan saat musim surfing, yakni Juli, Agustus, dan September untuk menjajal kedasyatan tujuh gelombang berlapis. Selepas Oktober, nelayan pun tidak ada yang berani melewati celah Pintu Air karena terlalu berisiko. Peselancar yang datang ke Plengkung, kebanyakan pria dari Australia, Amerika Serikat, Brasil, dan Jepang.

Masih belum puas bermain-main dengan laut dan pantai, coba saja bersnorkling dan diving di sekitar pantai Perpat, Slengrong, dan Tanjung Pasir. Di sana pantainya agak landai, lengkap dengan aneka terumbu karang dan beragam ikan hias. Atau ke Danau Segoro Anak yang tenang lengkap dengan hutan bakaunya untuk memancing ikan, berlayar, bersampan, berenang, ski air, dan mengamati tingkah laku aneka burung migran yang datang dari Australia sekitar bulan Oktober-Desember. Ada sekitar 16 jenis burung yang transit di sekitar danau ini, antara lain cekakak suci (Halcyon chloris/Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (Merops philippinus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola).

Kalau fisik masih kuat, coba saja junggle track atau menelusuri setapak di hutan mulai dari Rowo Bendo, Ngagelan, Segoro Anak hingga Cungur. Atau rute lainnya dari Trianggulasi, Pancur sampai ke Plengkung. Wisata jalan kaki ini melewati hutan yang masih asri dan kerap dilalui aneka satwa seolah kita berada di alam liar.

Mau yang lebih santai? datang saja ke Sadengan, 7 km atau sekitar 15 menit dari Trianggulasi. Tempat ini merupakan padang pengembalaan satwa liar seperti banteng, kijang, rusa, kancil, dan babi hutan bahkan sesekali terlihat merak. Di tepian savana ini ada watching tower atau menara pengintai yang terbuat dari kayu untuk mempermudah wisatawan menikmati atraksi beragam hewan asyik merumput.

Trianggulasi-Sadengan merupakan jalur trail wisata. Pada pagi hari, di sepanjang jalan ini kita bisa melakukan bird watching atau pengamatan burung karena kawasannya banyak dijumpai pepohonan besar yang kerap disinggahi aneka burung, antara lain beo dan cucak hijau.

Kegiatan lain yang tak kalah menarik, mengabadikan pemandangan lewat bidikan kamera. Di TNAP ini begitu banyak panorama alam indah, unik, dan asri berupa pantai, hutan tropis dataran rendah, bukit ijo royo-royo, yang sayang kalau tidak dipotret. Misalnya, di Pantai Trianggulasi, 13 Km dari pintu masuk Pasaranyar terdapat pantai pasir putih dengan formasi hutan pantai untuk kegiatan wisata bahari, berkemah. Di tempat ini kita bisa menjepret pesona sunset yang menawan.

Di kawasan Pancur - Parang Ireng - Plengkung kita bisa mengabadikan beragam lukisan alam menarik antara lain sumber air Pancur, formasi karang hitam, dan hamparan pasir gotri sepanjang delapan km. Pasir tersebut berwarna kuning, berbentuk bulat dan berdiameter sekitar 2,5 mm. Sedangkan di Sunglon Omblo, kita bisa mengabadikan pesona sirkulasi pasang surut air laut dan tumbuhan khas payaunya.

Ingin memotret penyu, lanjutkan perjalanan ke Pantai Ngagelan yang terletak 6 Km atau sekitar 25 menit ke arah barat dari Trianggulasi. Di sana terdapat tempat penetasan telur penyu atau breeding turtle dan pemeliharaan anak penyu atau tukik sekaligus tempat pusat penelitian yang sering dimanfaatkan oleh mahasiswa. Ada sedikitnya tiga jenis penyu yang langka dan dilindungi seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas). Biasanya mereka mendarat, bertelur, dan menetas di pantai selatan taman nasional ini pads bulan April sampai Oktober.

Selain itu kita bisa memotret tumbuhan khas dan endemik kawasan ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki) dan bambu manggong (Gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya ketapang (Terminalia cattapa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia foetida), dan 13 jenis bambu. Tak ketinggalan beberapa satwa liarnya seperti lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus), banteng (Bos javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan (callus gallus), rusa (Cervus timorensis russa), atau kalau beruntung bisa memotret macan tutul (Panthera pardus melas), dan kucing bakau (Prionailurus bengalensis javanensis).

Masyarakat yang tinggal di sekitar TNAP hingga kini masih menjalani adat-istiadat khas "Blambangan". Mereka percaya kalau Hutan Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram, dan meyakini bahwa di hutannya masih tersimpan Keris Pusaka Sumelang Gandring. Oleh karenanya, pada saat-saat tertentu seperti 1 Syuro, bulan purnama, dan bulan mati, banyak dijumpai para penikmat olah kebathinan yang melakukan meditasi atau melaksanakan upacara religius.

Salah satu lokasi semedhi yang paling terkenal di TNAP adalah Goa Istana yang terletak arah timur dari Pantai Pancur sejauh dua km. Konon Bung Karno dipercaya pernah bertapa di goa yang dihuni kelelawar itu. Goa Padepokan, Putri, dan Basori juga kerap didatangi peziarah. Di dalamnya terdapat bangunan menyerupai makam.

Selain beberapa gua yang dianggap keramat oleh penduduk setempat, masih ada puluhan gua besar dan kecil lain di TNAP, seperti Gua Jepang di Tanjung Sembulungan yang terjal dan berhutan lebat. Konon di dalam gua buatan bernilai sejarah ini terdapat peralatan perang, berupa dua buah meriam sepanjang 6 meter. Yang agak menyeramkan Gua Macan di Tanjung Bringinan. Bentuk gua alami ini menyerupai tengkorak raksasa yang sedang menatap lautan, letaknya di tebing karang terjal. Untuk menikmati gua, khususnya yang alami dan belum atau jarang dijamah orang, tentu kita harus menyiapkan peralatan caving memadai dan tetap waspada, mengingat gua tersebut kerap menjadi sarang kelompok hewan ajag Jawa, predator yang diduga suka menyantap banteng betina.

Di TNAP, kita juga bisa menyaksikan sekaligus memotret jalannya upacara umat Hindu yaitu Pagerwesi. Upacara yang diadakan setiap jangka waktu 210 hari ini terdiri dari tiga prosesi yakni Palemahan, Pawongan, dan Kayangan. Dalam acara tersebut, air yang digunakan diambil dari tiga sumber air dari Kucur, Pancur, dan Air Laut yang merupakan pertemuan air suci dari gunung dan laut. Kemudian air tersebut diarak dengan diiringi alunan gamelan khas Hindu ke Pura Luhur Giri Salaka yang berada di Rowobendo, 10 Km dari pintu masuk Pasaranyar.

Sekarang sudah tahu bukan, kalau di TNAP kita bukan cuma bisa surving di Plengkung dengan tujuh lapis ombak besarnya. Tapi juga bisa melakukan beragam kegiatan menarik dan menantang lainnya, baik yang bernuansa alam, petualangan, penelitian maupun budaya. Jadi, rasanya pantas kalau kawasan konservasi ini dijadikan objek kunjungan ekowisata Anda berikutnya.

Sumber: Majalah Travel Club

CURAHAN DARI BALIK TEBING KARST






Tak akan banyak yang menyangka, tebing-tebing karst yang gersang di Desa Bleberan, Playen, Gunung Kidul, masih mengeluarkan sejumlah air terjun. Sungguh indah menyaksikannya dari lembah di tepian Sungai Oyo. Perjalanan menuju Air Terjun Sri Getuk di Bleberan berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Yogyakarta.

Menuju barat dari Jalan Yogya - Wonosari, akan cukup sulit mengaksesnya tanpa membawa kendaraan pribadi. Kita juga tidak langsung berhenti tepat di dekat air terjun, karena masih ada perjalanan setapak sepanjang hampir satu kilometer. Namun, perjalanan dalam lingkungan desa memang selalu memberi kenyamanan dan perasaan tenang. Kesenyapan di dalamnya menjadi harmonis tatkala terdengar para petani yang tengah menggarap sawah- sawah yang berlimpah air dan sebagian lagi sedang dipanen karena telah menguning hamparan padinya.

Active ImageDesa ini menjadi berbeda dari kawasan karst lainnya di Gunung Kidul, di mana kekeringan begitu menyiksa masyarakat di sekitarnya. Masyarakat di sana tak pernah kekurangan air. Mereka bahkan tak perlu menggali sumur untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari karena terdapat banyak mata air di sekitarnya. Sejumlah di antaranya adalah yang mengalir menuju Sungai Oyo, melalui celah-celah tebing perbukitan.

Tempat wisata ini tak luput dari kisah-kisah mistik. Dinamai Air Terjun Sri Getuk atau Sri Ketuk karena menurut kepercayaan masyarakat setempat pada masa lalu, sering terdengar suara gamelan, yang diyakini milik raja jin Slempret yang bernama Angga Mendura. Meski jin, dirinya menyukai kesenian, sehingga sampai sekarang terkadang terdengar gamelan berbunyi.

Air Terjun Sri Getuk dikelilingi dua sungai, Oyo serta Ngumbul yang memiliki tiga mata air, Dung Poh, Ngandong, dan Ngumbul. Masyarakat juga percaya bahwa air terjun tersebut dulunya adalah pasar jin. Bahkan, ketika hari pasaran jin tiba, sering ditemukan banyak sampah di sekitarnya.

Meski begitu, di masa sekarang ini kepercayaan tersebut tak lagi dipegang. Koordinator pengelolaan wisata setempat, Abdul Hakim, mengemukakan air terjun yang bercabang pada dua celah tebing ini lebih dilihat sebagai aset yang perlu dilestarikan, sehingga menjadi daya tarik wisata Desa Bleberan.

Active ImageKehadirannya dilengkapi pula dengan sejumlah goa yang mengelilinginya. Menurut Abdul Hakim, setidaknya terdapat tujuh goa, yaitu Rancang Kencana, Ngledok, Dlingsem, Dilem, Song Ngoya, Tunting, dan Jati Udeng. Hanya saja, yang kemudian benar- benar digarap untuk jadi goa wisata adalah Rancang Kencana. Goa ini bermulut besar, dengan jalan masuk horizontal, sehingga mudah dijelajahi oleh wisatawan umum. Untuk menarik minat wisatawan, sejak enam tahun lalu pihaknya membangunkan tangga masuk ke goa dan tangga turun menuju air terjun.

Pembangunan ini didanai seorang donatur di Jakarta, tetapi kami laksanakan bersama-bersama," tutur dia, beberapa waktu lalu. Ia melanjutkan, sejauh ini dukungan pemerintah daerah setempat untuk mengangkat daerah ini sebagai kawasan wisata memang belum tampak. Meski begitu, antusiasme masyarakat begitu besar menyambut kedatangan wisatawan. (Irma Tambunan)

Sumber : Kompas, 15 Desember 2006